Friday, September 14, 2007

Restoran Cepat Saji vs Tradisional

Anda tentu mengenal Mc D, A&W, KFC, Burger King, Wendy's, Hoka-Hoka, Starbucks sebagai beberapa restoran franchise cepat saji yang memperkaya pilihan menu makanan masyarakat di negeri ini.

Selain itu, tentu anda juga kenal Restoran Sederhana, Padang Sati, Natrabu, Mbok Berek, Suharti, Soto Kudus, Bakmie Gajah Mada, Solaria sebagai restoran tradisional hasil usaha anak-anak negeri ini.

Pada yang kelompok yang pertama, bila anda datang, maka anda harus antere di depan counter, kemudian menyebutkan paket yang anda kehendaki, membayar lalu cari tempat duduk. Jika kebetulan anda sedang sial barangkali anda tetap harus berdiri membawa nampan penuh santapan menunggu sampai ada kursi konsong.

Pada yang kedua, anda terlebih dahulu mencari tempat duduk. Menyamankan diri anda sendiri dari kepenatan. Kemudian pelayan datang dan menerima pesanan anda. Setelah anda selesai makan, anda memanggil pelayan untuk membayar.

Dari perspektif ini, dalam restoran tradisional anda mendapat pelayanan yang lebih penuh dibanding dengan pelayanan restoran cepat saji. Terlebih lagi jika anda membawa tamu yang akan anda traktir makan, restoran tradisional tidak mengharuskan tamu mengantri didepan counter, serta terpapar resiko tidak dapat tempat duduk pula.

Namun demikian, sepertinya tidak banyak logika "common sense" pembeli serupa ini memberikan kritik terhadap keadaan yang sudah berlangsung cukup lama tersebut. Semua perilaku pembeli seperti tertelan oleh "brand" yang mendunia, sehingga meski sesungguhnya menerima layanan yang kurang dan membayar lebih mahal (getting less service & paying more) pada restoran-restoran cepat saji, pembeli seperti tidak berdaya. Kekuatan dari restoran cepat saji internasional barangkali adalah karena para pembelinya ingin berasosiasi dengan tema-tema kemajuan, modern, affluent, dan gengsi. Hal ini kemudian menjadi sangat aneh, karena di negara asalnya restoran-restoran cepat saji itu bukanlah tempat bergengsi. Ia lebih banyak dikunjungi kelas pekerja blue collar yang kredibilitasnya dipandang rendah oleh karena itu harus membayar di depan sebelum dapat menikmati hidangan.

Mungkinkah kita mem-franchise-kan kaki lima pinggir jalan di Amerika atau Eropa atau negara lainnya, dan mendapat kunjungan dari kelas menengah dan atas dari masyarakat mereka? Hal-hal aneh yang jungkir balik memang seringkali terjadi.

No comments: