Jika anda didatangi seorang agen asuransi maka yang pertama anda ingin lakukan adalah melangkah sejauh mungkin darinya.
Hal ini merupakan reaksi alamiah. Merupakan suatu defense mechanism (mekanisme) pertahanan diri. Karena secara bawah sadar anda memiliki anggapan, yang salah satunya ialah, asuransi tidak menguntungkan anda. Asuransi selalu meminta premi, ketika uang hendak di claim susahnya minta ampun. Selain itu, jika tidak terjadi apa-apa uang anda hangus.
Memang demikianlah kebanyakan asuransi. Tetatpi tentu saja penyelenggara asuransi dan agen-agennya tidak akan septuju dengan pendapat ini.
Asuransi bisa hidup karena adanya kekhawatiran seseorang tentang masa depannya. Kekhawatiran itu beragam. Kehilangan perkerjaan. Terkenan penyakit kritis yang memakan biaya pengobatan mahal. Kecelakaan. Kematian. Cacat seumur hidup.
Kekhawatiran ini dimanfaatkan secara cerdas oleh perusahaan asuransi. Mereka mencari aspek-aspek kekhawatiran publik yang rationya kecil. Hal ini diperoleh melalui riset dan statistik yang tersedia. Seorang ahli matematika yang dinamakan aktuaria kemudian menghitungnya dengan teknik probabilitas. Maka ia akan mengetahui peristiwa-peritiwa mana yang kejadiannya kecil.
Sebagai contoh saja sebuah paket asuransi kecelakaan dijual dengan cara sebagai berikut: Anda cukup membayar Rp 1000 per bulan dan anda akan dijamin jika terjadi kecelakaan dan jari kelingking kiri putus selama jam kerja dan pada hari kerja anda akan memperoleh uang jaminan sebesar Rp 10 juta.
Pihak asuransi sudah menghitung bahwa ratio kejadian ini adalah 1:100.000.000. Jadi jika perrusahaan berhasil menjual 100.000 polis maka uang yang diperolehnya adalah 100.000 x 1000 = 100 Juta per bulan, atau Rp 1.200 juta per tahun.
Yang perlu diperhatikan para pembeli polis adalah apakah manfaat yang berupa cakupan (scope) pertanggungannya "masuk akal" atau tidak?
Terus terang asuransi itu tidak bermanfaat bagi orang yang hidupnya tidak pernah terjadi hal-hal yang dramatis. Tetapi dia bermanfaat bagi orang yang punya kecenderungan menghadapi musibah. Masalahnya kita tidak tahu termasuk golongan mana. Dan kita tidak dapat melihat masa depan kita sendiri. Semua ada ditangan Yang Maha Esa.
Sunday, September 2, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment